Total Pengunjung

Rabu, 31 Oktober 2012

MENUNGGU SOETAN BATUGANA MASUK BUI

Pagi ini Rabu, 01 November 2012 Metro TV telah memberitakan seputar kasus korupsi pembangkit listrik tenaga surya pandeglang banten yang terjadi pada tahun 2007-2008 silam. Dalam isi pemberitaan, Kosasih Abbas yang saat ini sudah di nyatakan sebagai terdakwa membeberkan beberapa oknum anggota DPR, Jendral POLRI, Pejabat kementrian beserta pihak pihak yang di sinyalir menjadi otak dibalik kasus korupsi yang menghabiskan uang rakyat hingga milyaran rupiah.

Beberapa nama anggota DPR yang diklaim terlibat skandal korupsi dalam proyek pandeglang salasatunya adalah Soetan batugana. Ya Sutan batoe gana yang sering muncul di layar kaca dengan gaya dan ciri khasnya sebagai politisi kritis, sangat aktif dalam urusan urusan kepartaian dan gaya bicaranya yang suka blak blakan. Keterlibatan batu gana dalam kasus korupsi menurut terdakwa adalah beliau yang menggiring dan mengawal prosesi lelang proyek dikementrian supaya proyek ini dapat disetujui dengan mudah sehingga perusahaan perusahaan yang di unggulkan oleh soetan batugana menjadi pemenang lelang.

Sedari awal menurut Kosasih abbas lelang sebuah proyek yang dilakukan kementrian, semua calon calon pemenang sudah diketahui dan telah di setting jauh jauh sebelumnya. Kenapa bisa demikian? Karena para peserta lelang telah memberikan DP kepada oknum oknum DPR, pejabat kementrian dan panitia lelang supaya perusahaannya bisa lolos menjadi pengendali proyek. Abbas mengatakan model model seperti ini adalah bukan suatu hal baru terjadi di ranah kementrian.

Kembali kepada keterlibatan soetan batugana, saya sebagai orang yang cukup simpatik terhadap pribadi beliau, sangat menyayangkan manakala yang bersangkutan betul betul terbukti korupsi. Indikasi yang menguatkan keterlibatan soetan batugana atas kasus pembangkit listrik pandeglang, konon katanya beberapa bulan terakhir bapak calon gubernur Sumatra utara dari Partai Demokrat ini sering absen dalam menghadiri rapat rapat diparlemen. Kira kira kemana ya bang Soetan batugana?? Untuk mengetahui kelanjutan informasi yang aktual, kita tunggu perkembangan selanjutnya

MITOS ASAL MUASAL LARANGAN MENIKAH 'SUNDA-JAWA'

Sedari kecil mungkin kita pernah mendengar mitos bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya,  ternyata hal itu hingga sekarang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa penyebabnya? Berikut saya uraikan jabwaban atas isi pertanyaan diatas yang saya rangkum dari laman google edisi Rabu, 31 Oktober 2012, berikut penjabarannya :

Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. JIka Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut. Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara. Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk. "Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali," tegas sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.
Hal ini dia sampaikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.

Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat. Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala. Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.

Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.



Selasa, 30 Oktober 2012

SUMPAH PEMUDA = SUMPAHNYA PARA PEMUDA

84 Tahun yang lalu. bangsa ini telah melahirkan pemuda-pemudanya. Pemuda dengan segala sumpahnya. Bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa yang satu. Indonesia. Kata Indonesia begitu menyihir, ditengah derita berada dalam kungkungan penjajah asing. Kesadaran pemuda sebuah bangsa selalu menjadi inspirasi terjadinya revolusi sosial dan politik di negara itu. Pemuda yang memahami dan menikmati rasa religiusitas dalam balutan nasionalisme. Pemahaman akan satu keyakinan bahwa Hubbul wathon minal iman. Mencintai negara juga merupakan sebagian daripada Iman.

Sumpah Pemuda bukanlah hanya serangkaian kalimat yang hanya di ingat ketika datang tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Sumpah pemuda itu ruang ruang kontempalsi bagi pemuda di negeri ini akan eksistensi dan peran serta kiprah dalam berbangsa dan bernegaranya. Pemuda yang tidak hanya memikirkan agamanya, memikirkan sistem kehidupan atas dasar keyakinan dan kepercayaaan dirinya, pemuda yang dalam benaknya tak ada lagi yang lain selain Indonesia. Bukan pemuda yang dalam balutan tubuhnya adalah teror dan dentuman bom yang merusak, melukai dan menghilangkan jiwa, bukan pemuda yang dalam hati dan pikirannya hanya menjadikan Indonesia menjadi gurun pasir. Indonesia yang terbelenggu oleh cita-cita masa lalu atas nama kekuasaan.

Sumpah Pemuda, adalah sumpah untuk merangkai sekat perbedaan suku, rasa, agama dan bahasa menjadi mozaik kehidupan yang indah di bumi Indonesia.  Yang menjadikan setiap perbedaan itu benar-benar rahmat bagi ummat. Ikatan menjadi Indonesia dalam Sumpah seorang pemuda, adalah ikatan spiritualitas dan religiusitas yang menjadi energi nasionalisme. Sumpah pemuda, bukanlah sumpah mereka para pemuda yang senang terus berada dalam rangkaian tawuran, keributan, syahwat kuasa, dan praktik-praktik regenerasi korupsi. Bukan pemuda yang muda, kaya, dan berkuasa yang kemudian masuk penjara.

Sumpah pemuda harus hadsir menjadi energi hidup dan harapan akan masa depan bangsa ini, Pemuda yang memikirkan dirinya dan bangsanya dalam kejujuran, ketulusan dan semangat pantang menyerah, yang bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, memikirkan partai dan kelompoknya semata, memikirkan gaya hedonisme kehidupannya yang kini kian hari kian mengikis sumpahnya sendiri. Sumpah Pemuda adalah Sumpahnya Para Pemuda